Kejadian
bermula pada saat awal semester 4 dimana kampus yang aku kuliah di dalamnya
sudah memiliki 3 angkaan tetapi hak yang kami butuhkan dan fasilitas tidak juga
kunjung ada. Kami pun mencari-cari sebuah kebenaran bagaimana kelanjutan dari
kampus ini. Kami membuat suatu kelompok dalam kampus kami yang bernama
GARTAMPUS “ Gerakan Tiga tahun tAnpa kaMPUS”. Setelah 3 angkatan kita lalui, hak kita sebagai mahasiswa
belum juga kami dapatkan, kelompok ini dibagi tugaskan ada yang menjadi
koordinasi lapangan dan ada juga yang menjadi koordinasi dalam. Koordinasi
lapangan yang mencari informasi di luar tentang letak rencana kampus kami akan
di bangun, serta mencari info ke DPR, Walikota, Pemkot, dll. Sedangkan untuk di
pihak dalam hanya mencari info seputar dalam kampus saja.
Pada suatu
ketika gerakan yang kami bentuk ternyata mendapat tanggapan dari Walikota, pemkot,
dan pemerintah daerah setempat untuk melakukan pertemuan ke kampus kami kampus
IPA. Kampus kami
untuk yang IPA kampus masih menyewa gedung milik BKD, sedangkan untuk IPS
kampus kami menyewa gedung milih salah satu Universitas swasta di Kediri UPD
(Universitas Pawiatan Dhaha).
Ternyata
dari pertemuaan dan rapat dari pemerintah daerah Kediri tidak ada menghasilkan
kepuasan. Menurut info yang dari team kami yang ikut rapat di pertemuan dengan
pemerintahan daerah dengan Rekto kampus kami adalah saling menyalahkan satu sama
lain.
Walikota :
bapak pemkot bukannya saya sudah mengirimkan SK ke pada bapak untuk mengizinkan kampus kami mendirikan di daerah Merican sana.
Pemkot :
iya betul bapak, dan SK tersebut sudah saya kirim ke pada bapak lagi untuk di
falidasi oleh bapak.
Kemudian
pertanyaan yang sempat membuat tim kami merasa emosi adalah ketika walikota
melontarkan sebuah pertanyaan kepada pihak kampus kami “sebenarnya kampus ini serius tidak untuk membangun di Kediri ?” lantas saja salah
satu tim kami berkata “ya serius lah pak, kalo tidak serius mana mungkin kami
sampai 3 angkatan”.
Karena
pertemuan tidak mendapatkan hasil maka tim lapangan mengajukan saran. Berniat
untuk melakukan aksi masa, yang mana kami akan merorasi di depan gedung
Walikota. Pada hari Senin pagi jam 7 kami kumpul di kampus untuk melakukan
persiapan berdemo di depan kantor Walikota, demo pertama kami berencana hanya
membawa sedikit masa karena niatnya hanya sebagai gretakan semata kepada
walikota karena dipersulitnya keperluan pendidikan.
Orasi pertama
dari kami ternyata tidak mendapatkan hasil karena walikota sedang keluar kota
katanya. Maka kami putuskan untuk melakukan Orasi susulan dengan masa yang
lebih banyak lagi. Kami berniat akan datang lagi selang 3 minggu kedepan.
Kemudian
hari yang di tetapkan pun tiba kami mengumpulkan mahasiswa yang mau ikut
memperjuangkan kampusnya, di tambah dengan warga Mrican yang tinggal di daerah
pembangunan kampus kampus kami yang sangat mendukung pembangunannya. Orasi pun kami
lakukan sama dengan yang pertama hanya saja dengan masa yang lebih banyak lagi,
dan tanpa di sadarai ada kelompok mahasiswa Malang dari Kampus pusat juga datang beberapa orang beserta Mahasiswa-mahasiswa dari universitas
negeri lain yang mendukung pembangunan tersebut datang ikut serta dalam orasi
tersebut.
Sore
menjelang jam menunjukkan pukul 3 sore ada 4 orang DPR keluar dari kantor
walikota menghampiri kami. Dan mereka
berkata “baik kami akan segera mengajukan, dan kami akan menyuruh tim untuk
bertemu dengan pimpinan kampus kami”. Serentak pun kami bubar setelah melakukan
perbincangan dengan salah satu dewan.
Dan hari
yang di tunggu pun tiba tim yang di kirim oleh walikota pun datang ke kampus
dengan membawa kawal polisi bersenjata lengkap “ah paling tu senjata Cuma
gretak doang gak ada pelurunya . .” gumamku dalam hati. Kali ini rapat
benar-benar tertutup, hanya rector, presiden mahasiswa, dan tim dari walikota
yang masuk.
Tak
beberapa lama rapat pun selesai, dan saya yang menjadi pertama di beritahu oleh
presiden mahasiswa hasil rapatnya bahwa rektor kampus memohon dengan sangat
kepada mahasiswanya untuk tidak lagi melakukan oraisi. Karena aku sangat
menghormatinya aku pun meng-iyakan permintaannya. Tak lama tim kami pergi
kemalang untuk bertemu dengan rector baru yang baru saja di lantik menggantikan
rector lama.
Jika di
perhitungkan kewajiban dan hak yang di dapatkan rasanya tidak sebanding jika
semua itu di perhitungkan, khususnya di fakultas ku dengan biaya kuliah paling
mahal di kampus Kediri. Dengan uang gedung 40 juta, SPP/ semester hampir 4
juta. Tetapi yang di dapatkan hanya kuliah saja, tanpa ada fasilitas LAB,
Praktikum hanya menggunakan Leptop pribadi, dan dapat anggaran untuk mengadakan
kegiatan kampus maksimal 5 juta pertahun. Sangat waw bukan kampus ku ini. Jika
di tanya kepada pihak kampus uang yang begitu banyak larinya ke sewa gedung, dan
transport dosen dari Malang ke Kediri. “kalo itu mah bukan alas an kalo
menurutku itu adalah resiko kampus yang harusnya di tanggung bersama bukan di
limpahkan kepada mahasiswa Kediri yang harus membayar sangat mahal tapi
fasilitas tidak ada”.
Tetapi jika
di tanggap positip ada sedikit hal yang menguntungkan. Ya untuk anggaran pengadaan kegiatan yang hanya 5 juta
pertahun kami bisa lebih mandiri tuk mencari sponsor-sponsor demi mendapatkan
uang guna acara kami. Dan Alhamdulillah selama ini untuk masalah uang gedung
kami tidak ada kesulitan berkat adanya sponsor walau dari pihak sponsor juga
meminta imbal balik dari kami. Dan sisanya jika masih ada kekurangan kami dari
panitia urunan dan jika masih kurang kami hilangin yang sekiranya kurang perlu.
Lain jika di malang dana yang cair sesuai dengan proposal pengajuannya.
Dan
terdengar dari mulut ke mulut bahwa rector yang baru ini tidak menghendaki
adanya pembangunan kampus S1 baru di luar kota. Secara otomatis berarti kami
adalah 3 angkatan pertama dan yang trakhir juga. Begitu sentilan dari kami para mahasiswa.
Tak lama
dari berita tersebut terdengar, ada tim advokasi kampus pusat pusat datang tuk menanyakan
kekurangan sarana dan prasarana. Otomatis banget teman-teman langsung mengisi
form, dan menusil kekurangan yang ada di kampus Kediri ini. Yang semua serempak
mengajukan kekurangan fasilitas gedung pribadi, dan kesama rataan hak sebagai
mahasiswa.
Selang
beberapa bulan tidak ada tanggapan atau kabar dari kampus pusat teman-teman pun
mulai kecewa dengan perilaku advokasi kampus pusat, lalu beberapa minggu kemudian datang
advokasi lagi memperlakukan hal yang sama dengan advokasi yang pertama datang.
“udah isi singkat aja gak bakal di dengerin percumah aku dah muak di
permainkan” kami pun serempak mengirim surat “hak kami di sama ratakan, atau
kami di pindah ke malang. (titik)”. Hingga saat ini kabar dari surat kami belum
juga dapat tanggapa. Isu-isu pun mulai datang terdengar ada yang mengatakan
“Kampus IV ni ATM kampus pusat”, “kita ini di anak tirikan dan jadi sumber
uang tuk kampus pusat”, dan lain sebagainya.
Sampai
sekarang keputusan untuk pendirian kampus tidak juga kunjung terdengar. Walau
syarat utama mendirikan Universitas sudah terpenuhi, yaitu adanya rector,
dosen, dan mahasiswa lebih dari 800 sedangkan kampus kami ada 2.000 lebih
mahasiswa.
Inilah kami
dari setiap cerita perlawanan dalam memperjuangkan hak yang tak kunjung kami
dapatkan. Kalian yang membaca ini jangan pernah menyerah tuk mendapatkan
sesuatu walau itu mustahil kalian dapatkan. Intinya adalah kalian udah pernah
mencobanya untuk meraih suatu keinginan apalagi jika keinginan kalian adalah
suatau hak yang harus kalian dapatkan.
"Nama kampus kami samarkan demi menjaga nama baik"




0 komentar:
Posting Komentar