Kamis, 05 Februari 2015

3 Pejuang Kampus

Kejadian bermula pada saat awal semester 4 dimana kampus yang aku kuliah di dalamnya sudah memiliki 3 angkaan tetapi hak yang kami butuhkan dan fasilitas tidak juga kunjung ada. Kami pun mencari-cari sebuah kebenaran bagaimana kelanjutan dari kampus ini. Kami membuat suatu kelompok dalam kampus kami yang bernama GARTAMPUS “ Gerakan Tiga tahun tAnpa kaMPUS”. Setelah 3  angkatan kita lalui, hak kita sebagai mahasiswa belum juga kami dapatkan, kelompok ini dibagi tugaskan ada yang menjadi koordinasi lapangan dan ada juga yang menjadi koordinasi dalam. Koordinasi lapangan yang mencari informasi di luar tentang letak rencana kampus kami akan di bangun, serta mencari info ke DPR, Walikota, Pemkot, dll. Sedangkan untuk di pihak dalam hanya mencari info seputar dalam kampus saja.


Pada suatu ketika gerakan yang kami bentuk ternyata mendapat tanggapan dari Walikota, pemkot, dan pemerintah daerah setempat untuk melakukan pertemuan ke kampus kami kampus IPA. Kampus kami untuk yang IPA kampus masih menyewa gedung milik BKD, sedangkan untuk IPS kampus kami menyewa gedung milih salah satu Universitas swasta di Kediri UPD (Universitas Pawiatan Dhaha).

Ternyata dari pertemuaan dan rapat dari pemerintah daerah Kediri tidak ada menghasilkan kepuasan. Menurut info yang dari team kami yang ikut rapat di pertemuan dengan pemerintahan daerah dengan Rekto kampus kami adalah saling menyalahkan satu sama lain.

Walikota : bapak pemkot bukannya saya sudah mengirimkan SK ke pada bapak untuk mengizinkan kampus kami mendirikan di daerah Merican sana.

Pemkot : iya betul bapak, dan SK tersebut sudah saya kirim ke pada bapak lagi untuk di falidasi oleh bapak.

Kemudian pertanyaan yang sempat membuat tim kami merasa emosi adalah ketika walikota melontarkan sebuah pertanyaan kepada pihak kampus kami  “sebenarnya kampus ini serius tidak untuk membangun di Kediri ?” lantas saja salah satu tim kami berkata “ya serius lah pak, kalo tidak serius mana mungkin kami sampai 3 angkatan”.

Karena pertemuan tidak mendapatkan hasil maka tim lapangan mengajukan saran. Berniat untuk melakukan aksi masa, yang mana kami akan merorasi di depan gedung Walikota. Pada hari Senin pagi jam 7 kami kumpul di kampus untuk melakukan persiapan berdemo di depan kantor Walikota, demo pertama kami berencana hanya membawa sedikit masa karena niatnya hanya sebagai gretakan semata kepada walikota karena dipersulitnya keperluan pendidikan.

Orasi pertama dari kami ternyata tidak mendapatkan hasil karena walikota sedang keluar kota katanya. Maka kami putuskan untuk melakukan Orasi susulan dengan masa yang lebih banyak lagi. Kami berniat akan datang lagi selang 3 minggu kedepan.

Kemudian hari yang di tetapkan pun tiba kami mengumpulkan mahasiswa yang mau ikut memperjuangkan kampusnya, di tambah dengan warga Mrican yang tinggal di daerah pembangunan kampus kampus kami yang sangat mendukung pembangunannya. Orasi pun kami lakukan sama dengan yang pertama hanya saja dengan masa yang lebih banyak lagi, dan tanpa di sadarai ada kelompok mahasiswa Malang dari Kampus pusat juga datang beberapa orang beserta Mahasiswa-mahasiswa dari universitas negeri lain yang mendukung pembangunan tersebut datang ikut serta dalam orasi tersebut.

Sore menjelang jam menunjukkan pukul 3 sore ada 4 orang DPR keluar dari kantor walikota menghampiri kami.  Dan mereka berkata “baik kami akan segera mengajukan, dan kami akan menyuruh tim untuk bertemu dengan pimpinan kampus kami”. Serentak pun kami bubar setelah melakukan perbincangan dengan salah satu dewan.

Dan hari yang di tunggu pun tiba tim yang di kirim oleh walikota pun datang ke kampus dengan membawa kawal polisi bersenjata lengkap “ah paling tu senjata Cuma gretak doang gak ada pelurunya . .” gumamku dalam hati. Kali ini rapat benar-benar tertutup, hanya rector, presiden mahasiswa, dan tim dari walikota yang masuk.

Tak beberapa lama rapat pun selesai, dan saya yang menjadi pertama di beritahu oleh presiden mahasiswa hasil rapatnya bahwa rektor kampus memohon dengan sangat kepada mahasiswanya untuk tidak lagi melakukan oraisi. Karena aku sangat menghormatinya aku pun meng-iyakan permintaannya. Tak lama tim kami pergi kemalang untuk bertemu dengan rector baru yang baru saja di lantik menggantikan rector lama.

Jika di perhitungkan kewajiban dan hak yang di dapatkan rasanya tidak sebanding jika semua itu di perhitungkan, khususnya di fakultas ku dengan biaya kuliah paling mahal di kampus Kediri. Dengan uang gedung 40 juta, SPP/ semester hampir 4 juta. Tetapi yang di dapatkan hanya kuliah saja, tanpa ada fasilitas LAB, Praktikum hanya menggunakan Leptop pribadi, dan dapat anggaran untuk mengadakan kegiatan kampus maksimal 5 juta pertahun. Sangat waw bukan kampus ku ini. Jika di tanya kepada pihak kampus uang yang begitu banyak larinya ke sewa gedung, dan transport dosen dari Malang ke Kediri. “kalo itu mah bukan alas an kalo menurutku itu adalah resiko kampus yang harusnya di tanggung bersama bukan di limpahkan kepada mahasiswa Kediri yang harus membayar sangat mahal tapi fasilitas tidak ada”.

Tetapi jika di tanggap positip ada sedikit hal yang menguntungkan. Ya untuk  anggaran pengadaan kegiatan yang hanya 5 juta pertahun kami bisa lebih mandiri tuk mencari sponsor-sponsor demi mendapatkan uang guna acara kami. Dan Alhamdulillah selama ini untuk masalah uang gedung kami tidak ada kesulitan berkat adanya sponsor walau dari pihak sponsor juga meminta imbal balik dari kami. Dan sisanya jika masih ada kekurangan kami dari panitia urunan dan jika masih kurang kami hilangin yang sekiranya kurang perlu. Lain jika di malang dana yang cair sesuai dengan proposal pengajuannya.

Dan terdengar dari mulut ke mulut bahwa rector yang baru ini tidak menghendaki adanya pembangunan kampus S1 baru di luar kota. Secara otomatis berarti kami adalah 3 angkatan pertama dan yang trakhir juga. Begitu sentilan dari kami para mahasiswa.

Tak lama dari berita tersebut terdengar, ada tim advokasi kampus pusat pusat datang tuk menanyakan kekurangan sarana dan prasarana. Otomatis banget teman-teman langsung mengisi form, dan menusil kekurangan yang ada di kampus Kediri ini. Yang semua serempak mengajukan kekurangan fasilitas gedung pribadi, dan kesama rataan hak sebagai mahasiswa.

Selang beberapa bulan tidak ada tanggapan atau kabar dari kampus pusat teman-teman pun mulai kecewa dengan perilaku advokasi kampus pusat, lalu beberapa minggu kemudian datang advokasi lagi memperlakukan hal yang sama dengan advokasi yang pertama datang. “udah isi singkat aja gak bakal di dengerin percumah aku dah muak di permainkan” kami pun serempak mengirim surat “hak kami di sama ratakan, atau kami di pindah ke malang. (titik)”. Hingga saat ini kabar dari surat kami belum juga dapat tanggapa. Isu-isu pun mulai datang terdengar ada yang mengatakan “Kampus IV ni ATM kampus pusat”, “kita ini di anak tirikan dan jadi sumber uang tuk kampus pusat”, dan lain sebagainya.

Sampai sekarang keputusan untuk pendirian kampus tidak juga kunjung terdengar. Walau syarat utama mendirikan Universitas sudah terpenuhi, yaitu adanya rector, dosen, dan mahasiswa lebih dari 800 sedangkan kampus kami ada 2.000 lebih mahasiswa.

Inilah kami dari setiap cerita perlawanan dalam memperjuangkan hak yang tak kunjung kami dapatkan. Kalian yang membaca ini jangan pernah menyerah tuk mendapatkan sesuatu walau itu mustahil kalian dapatkan. Intinya adalah kalian udah pernah mencobanya untuk meraih suatu keinginan apalagi jika keinginan kalian adalah suatau hak yang harus kalian dapatkan.


"Nama kampus kami samarkan demi menjaga nama baik"

0 komentar:

Posting Komentar